“Menjahit” Komodo dari Meja Kerja

Aku nggak pernah tahu sebelumnya, bahwa pekerjaan tentang komodo akan lebih sering membawaku ke meja kerja, daripada ke taman nasional itu sendiri. 

Yang kubayangkan pada awalnya adalah kerja-kerja dengan gesekan sepatu bot pada permukaan tanah berlumpur; terik matahari Labuan Bajo yang lantas ditenggelamkan waktu; atau perahu-perahu kayu yang memantul pada ombak tepi lepas laut. Tapi, yang kuterima justru laptop yang (terlalu) lama menyala, tab pada browser yang (terlalu) banyak, dan file-file yang (terlalu) besar.

Tapi, ya, dari sinilah semuanya bermula.

Memulai Peran “Penjahit”

Aku tergabung dalam tim pengembangan modul Komodo dalam program Module Development and Capacity Building on Climate Change and Greening Education in Komodo Biosphere Reserve. Program ini adalah inisiatif kolaboratif bersama UNESCO, yang berangkat dari kegelisahan sederhana: bagaimana caranya agar kita nggak berhenti pada kebanggaan akan lanskap di kawasan komodo saja, tapi juga pada pendidikan tentang konservasi dan pariwisata berkelanjutan? 

Dengan arahan dari Project Manager, Putri, aku mulai mengerjakan kurikulum dan modul komodo bukan dari lapangan, tapi tumpukan pengetahuan yang kala itu masih berserakan: dokumen referensi UNESCO, materi-materi konservasi komodo dan pariwisata yang ditulis tim Ranger Goes to School (RGtS), dan catatan-catatan diskusi kami dengan pendiri RGtS, Ikbal.

Aku dan teman baruku di proyek ini, Zahrah, bekerja dari jauh pada April 2025, di kota kami masing-masing yang bahkan terpisah pulau. Sebagai Koordinator Aktivitas, Zahrahlah yang paling pertama masuk ke dalam rimba pengetahuan itu. Ia yang membaca hampir semuanya, dari dokumen kebijakan sampai naskah-naskah pembelajaran, sebagai fondasi kerangka awal dibangun. Setelah itu, kami akan berdiskusi, dan melalui pertukaran pesan di WhatsApp inilah peran kami punya kata kuncinya, “Kita harus menjahit semuanya.”

Peran penjahit kami jalankan sebagaimana katanya: ini sebaiknya di semester berapa, ini terlalu berat untuk kelas ini, ini justru penting untuk dikenalkan sejak awal, dan lain-lain. Aku dan Zahrah bekerja dengan rencana menjadikan modul Komodo dan Pariwisata Berkelanjutan dalam dua semester. Kami pun lantas berbagi tugas dan urutan-urutan kerja.

Bekerja Dalam dan Dengan Kepala

Sejujurnya, pekerjaanku dan Zahrah dari luar terlihat membosankan. Selain diskusi struktur bab dan substansi, kami hanyalah seseorang yang menatap layar laptop dan menulis, berjam-jam, berhari-hari. Tapi, apa yang kupikirkan selama menulis modul berkelana hingga hal-hal yang personal. Keresahan pertamaku berangkat dari minimnya pengalamanku dengan si biawak raksasa itu: waktu itu, aku belum pernah melihat langsung komodo seumur hidupku.

Dari keresahan itulah, aku menulis sambil memikirkan target kurikulum dan modul kami. Pembaca kami nantinya adalah siswa-siswi di kawasan Taman Nasional Komodo, yang setiap hari melihat biawak-biawak itu berjalan di dekat rumah mereka, di langit-langit ruang kelas, di belakang sekolah. Mereka memang bertemu komodo hampir setiap hari, tapi mereka belum tentu tahu apa artinya hidup di kawasan konservasi, belum tentu paham mengapa pariwisata harus dijaga, belum tentu pernah diajak membayangkan bahwa mereka punya masa depan di tanahnya sendiri.

Lalu, pertanyaanku di dalam kepalaku sendiri: “Apakah ini penting? Jangan-jangan mereka sudah tahu semuanya? (Apakah ini akan diterima dengan utuh; buku ini dan segenap perasaan yang turut dibawanya?)” Tapi, lagi-lagi, karena hanya ada aku dan meja kerjaku, tanpa mereka dan semua pengalaman berinteraksi dengan komodo itu, maka aku hanya bisa terus menulis sambil terus bertanya-tanya.

Ketika kami telah menjahitnya menjadi draf pertama, kegiatan Konsultasi Publik pun dilaksanakan pada Juni 2025. Di tengah pertanyaanku yang belum terjawab, ada yang membuatku dan Zahrah harus membongkar struktur dari awal: sebuah usulan agar kurikulum ini tidak dibuat dua semester, melainkan tiga. 

Di satu sisi, oke, itu akan jadi pekerjaan yang melelahkan. Tapi, di sisi lain, pada titik itu, aku merasa bahwa usulan itu bukan hanya usulan biasa saja, tapi di dalamnya ada kesamaan semangat dari pemangku kepentingan yang menyimak pekerjaan kami: bahwa, mungkin, modul ini akan benar-benar dibaca, dan nggak hanya akan berakhir jadi buku yang terselip di rak sekolah para siswa.

Apa yang mulanya cuma asumsiku, diperkuat di akhir kegiatan, ketika Putri yang ada langsung di lokasi, bertanya ke hadirin, “Bapak-Ibu, apakah pengembangan modul Komodo dan Pariwisata Berkelanjutan ini penting?”

Dari laptopku, di meja kerjaku, berjarak hampir 1.500km dari Labuan Bajo, dengan earphone di telinga, aku mendengar sayup-sayup suara dari lokasi yang terserap speaker, “PENTING!”

Putri menanyakan itu sampai dua kali. Aku merasa lebih dari cukup.

Hidup Memaknai Kerja

Temanku yang lain di proyek ini adalah Shofie, yang berperan dalam mengubah modul kami menjadi bentuk visual yang hidup. Dari layar yang sebelumnya penuh teks dan hanya teks, lahir halaman-halaman yang ramah dibaca, yang membuatku (bahkan sebagai yang menjahitnya) seperti bisa diajak masuk ke cerita tentang wilayah komodo sendiri. Di titik itu aku sadar, modul ini bukan lagi sekadar dokumen kerja, tetapi perlahan menjadi buku yang punya wajah. (Terima kasih, Shofie!)

Setelah Konsultasi Publik kedua pada September 2025 dan mempresentasikan modul kami yang telah dipecah jadi tiga semester, kami belajar satu hal penting: jika semua masukan diikuti tanpa henti, pekerjaan ini bisa nggak akan pernah selesai. Bukan karena orang-orang salah, tetapi karena kepedulian memang selalu melahirkan banyak sudut pandang. Aku dan Zahrah memilah mana yang memperkuat tujuan utama, mana yang bisa dicatat untuk pengembangan ke depan. 

Pada akhirnya, setelah kurang lebih delapan bulan bekerja bersama, modul ini telah selesai. 

Selesainya modul ini dibarengi dengan kabar bahagia peluncuran revisi Peraturan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT yang memperkuat legitimasi implementasi kurikulum komodo dan pariwisata berkelanjutan di tingkat sekolah. Aku mulai berani membayangkan penerbitan masal modul kami yang akan berakhir di atas meja belajar sekolah-sekolah di kawasan Taman Nasional Komodo.

Saat itu, aku sudah bertemu komodo. Aku menyempatkan diri berkunjung ke Labuan Bajo selama tiga hari, menempuh perjalanan darat dan laut hingga akhirnya bisa memotret komodo dari jarak dekat. 

Aku memang nggak bersama komodo setiap hari. Tapi, aku menghabiskan waktu berbulan-bulan memastikan bahwa kala nanti anak-anak di sana membuka buku ini, mereka nggak sedang membaca sesuatu yang asing tentang diri mereka sendiri. Bahkan, aku mengharapkan sebaliknya: bahwa mereka mendapati tempat tinggal mereka penting, pengetahuan mereka berharga, dan masa depan mereka layak dirawat.

Dan mungkin, di situlah makna kerja yang kuperoleh di Sirkula. 

Setidaknya, untuk apa yang kukerjakan di sini, aku belajar bahwa perubahan nggak selalu dimulai dari tanah yang dipijak. Kadang, perubahan itu hadir di meja kerja yang sunyi, dari dokumen yang dibaca dengan pelan-pelan, dari kalimat yang disusun dengan hati-hati. Dan aku ingin percaya, apa yang hari ini kami jahit di layar, suatu hari akan hidup dan menghidupi masa depan.

Akhirnya ketemu juga sama ini biawak satu.

more posts: